Tersadar tiba-tiba dan cerita lanjutan KP


.

Suddenly I woke up and realize…

Hah,,,sepertinya saya harus memikirkan semuanya kembali…
Segala sesuatunya tidak berjalan dengan lancar. Bukankah seharusnya saya merasa nyaman dengan apa yang saya jalani? Tapi kenapa rasa nyaman itu memudar dan digantikan oleh rasa nyaman yang baru. Bukannya saya berkhianat dan bercabang dua,,tapi memang dari semula saya sudah merasa ada yang salah. Kalau pun saya bertahan, entah dengan alasan apa.
Hadeeeewww,,,
Semoga saya memilih keputusan yang tepat.
Amin.

Yap, cukup sudah cerita pusingnya, sekarang kabar gembira,,,
Saya diterima KP di Hotel Tentrem,,,,horeeeee,,,,. Akhirnya saya tidak digantung lagi. Dan bisa melalui hari dengan senyuman tanpa rasa khawatir. Qikqikqik,,,.

Mari saya paparkan kronologisnya.
Jam 7.00 : Saya berangkat dari rumah, rencana pakai Pramek yang berangkat jam7-an. Dapet tiket jam 07.32, Pramek 7 kalau nggak salah.

Jam 08.30 : Nyampai Jogja,,dijemput ma Inda. Hadeeeww,,,baiknya teman saya yang satu ini. Saya berhutang es krim magnum padanya. Kita muter2 dulu. Dia ngajak ke rumah kakaknya, ambil biola—dia mau servis biola--. Setelahnya dia janjian ma temen temennya yang tukang servis biola di depan SMM-SMKI-SMSR (baru tau adaa sekolah menengah seni,,haghaghag,,parah)

Jam 10.00 : Otw ke Tentrem. Ngadep pak satpamnya. Bilang sampun janjian dengan bu Ari, dan saya diperbolehkan masuk dengan senyuman. Sampai di depan direksi keet, saya ketemu bapak2 ma ibu2, mereka bertanya saya cari siapa, saya bilang ‘Bu Ari,,tapi sebenarnya mau ketemu P ak Munir’ dan begitu saya jawab seperti itu, ada bapak2 mendekat, ternyata beliau pak Munir. Haha. Beliau menyuruh saya menunggu karena beliau hendak ke kondangan terlebih dahulu. Jiaaah,,,. Saya mah seneng-seneng saja menunggu,,asal bisa ketemu dan berbicara face to face menjelaskan maksud kedatangan saya. Qikqikqik.

Well, menunggu lah saya…

Jam 12.00 : Setelah penantian panjang penuh derita, beliau balik juga ke direksi keet. Hadewww,,,. Saya sampun ngoyot pak,,krik krik.. Menunggu lagi beliau ganti baju. Heik. Haha. Dan aqirnya ngobrol lah saya dengan beliau. Orangnya ramah ternyata, sama sekali tidak sesuai bayangan awal. Padahal pertamanya saya membayangkan beliau dingin dan galak. Tertanya baik sekali. Au.

Jam 13.00 : Saya berada di ruangan beliau selama setidaknya satu jam. Untung saja ruangannya AC, dingin. Haha. Saya disuruh menunggu sekalian surat balasan dari Waskita yang menerangkan bahwa saya diterima. Haaa…hore. Saya mah sanggup sanggup saja. Asalkan saya diterima, menunggu selama apapun akan saya lakoni Pak,,,. Pada jam itu, Inda pergi. Hiks,,ada acara dia, mau ke Pacitan dan ditunggu oleh travel. Hah. Ya sudah, saya relakan dia pergi. Krik krik krik. Menunggu sendirian itu menyebalkan sangat ternyata. Dan saya sangat amat lapar sehingga rasanya saya mau pingsan. Satu jam pertama menunggu saya masih sehat, wajah masi berseri-seri hangat. Setengah jam kemudian kringat dingin membanjiri. Sumpah, saya lapaaar.

14.30 : Pak Munir keluar dari ruangannya dan melihat saya yang duduk terkapar dengan wajah lapar. Beliau menawari saya makanan yang menjadi jatah makan siang beliau. Haha. Baik sekali. Demi kesopanan saya menolak dengan wajah penuh nestapa. Mau-mau tapi malu. Qikqikqik. Beliau masuk ke ruangannya lagi, keluar sambil memegang nampan berisa nasinya, kemudian disodorkan kepada saya, saya menggeleng sambil tersenyum sopan. Beliau berkata, ‘ Kalau nasinya nggak diterima, kamu nggak saya terima juga’. Heik. Ngok. Ngok. Saya di ancam. Dan ancamannya maut. Saya langsung nurut, malu, tapi dalam hati bersorak. Hore. Saya makan siang juga, gratis pula. Hahaha. Momen yang bakal nggak mungkin saya lupakan. Memalukan soalnya. Sambil nulis ini pun rasanya saya masi merasa malu.

15.30 : Satu jam lagi berlalu. Hadewww,,tanda tangan saja kok ya lama sekali,,well, sudahlah, akhirnya surat saya jadi. Fiuuhh. Pulanglah saya dengan tenang. Saya belum pernah sekalipun naik trans jogja sendirian. Dan ternyata gampang sekali. Au. Asik ternyata jalan-jalan sendirian. Saya nagih. Haha. Sampai stasiun tugu. Beli tiket yang jam 16.15 dan saya pulang.
Sekarang saatnya mengurus untuk yang dari jurusan. Sampai dibuatkan SKKP saya belum boleh merasa tenang.

Well. Tetap doakan saya teman.

cy

kabar KPq


.

Merapi meletus tanggal 26 November kemaren. iyap, gunung merapi itu,,,gunung yang sempet saya daki Januari yang lalu kalo nggak salah. Puncak Garuda yang semula ditandai dengan adanya batu gedhe mirip burung Garuda sekarang menghilang. Terkena lahar. Parah. Berminggu-minggu Merapi terus melemparkan serangan. Sampai tulisan ini dibuat pun, sepertinya keadaan belum tenang, walau sudah tak terdengar parah lagi.
Desa-dessa sekitar merapi tertutup abu, bahkan abunya tertiup sampai Tasikmalaya yang notabene sekitar 500km-an. Fiuuuhh,,,semoga para korban diberi ketabahan.
well,,
Sebenarnya saya akan melaporkan perkembangan terakhir KP Hotel Tentrem saya. Terakhir saya menghubungi pihak sana--Bu Ari--bilang bahwa Pak Munir sedang berada di Surabaya, dan berjanji palsu lagi untuk kesekian kalinya bahwa akan menghubungi saya bila sudah ada keputusan penerimaan saya. Dan itu sekitar 2 minggu yang lalu. Dan sampai sekarang saya belum menerima kabar sama sekali. Apalagi ada kejadian musibah Merapi. Saya berencana mendatangi Jogja, tapi masi belum berani. well,,saya sungguh berharap banyak pada proyek ini. Belum dapat cadangan, jadinya tidak tenang.
Semoga saya diterima...
Doakan saya teman...

cy

ternyata wanita dan pria memang berbeda,,,


.

Fiuuuuhhh,,,percuma saya nangis-nangis sampai berdarah darah dan marah-marah nggak jelas beberapa hari belakangan ini.
Hah,,baiklah, saya akan sedikit bercerita tentang jalinan komitmen yang telah saya jalani hampir 4 bulan.
Sebulan pertama hubungan kami memang hangat-hangatnya. Tiap hari ada saja bentuk perhatian yang tercurah darinya. catat: bukan dari saya, karena pada saat itu saya masih nge-henk,,masi nggak percaya klo saya sedang menjalin sebuah hubungan, jadi saya lempeng-lempeng saja.haha.
Sebulan berikutnya kita nggak ketemu sama sekali karena dia pulang kampung, liburan semester, saya pun di solo dengan tenang dan damai.
Sebulan setelahnya masi lumayan, hangat kuku-kuku,,tapi lama2 mendingin, saya yang mulai sadar kewajiban saya sebagai pasangan mulai melangsa, karena tiap mengirim kabar lewat sms dengan sedikit manja--well, not me actually--cuma dibalas dengan bahasa yang singkat padat dan jelas. Sms balasan yang tanpa emosi. Saya jengkel, saya mencak-mencak tidak terima. Frekuensi ketemuan kita pun jarang. Pikiran saya semakin meliar. Mulai berpikir yang tidak-tidak. merasa tidak dihargai. Pengennya mengakhiri hubungan.
selama hampir di bulan ke-3 saya selalu seperti itu. berpikiran macam-macam. Tapi nggak berani doing action. saya hanya mencak-mencak dihadapan temen-temen wanita saya. Sampai akhirnya, dipuncak ketidakpercayaan saya menangis. Malu sebenarnya mengakuinya. xixi,
Saya yang selama 3 tahun di semarang tidak pernah menangis, sekarang mewek nggak jelas. Merasa bodoh sekarang. Saya menangis, bukan karena menangisi 'dia' tapi lebih ke menangisi 'hubungan kita'. kalau pun memang sudah berakhir mbok ya segera di akhiri, saya nggak tahan digantung, begitu pikiran saya saat itu.
Hingga suatu hari, seminggu yang lalu, saya tidak tahan. Saya harus bertemu dengannya, sekedar melihat apa memang ada yang perlu saya pertahankan.
Tapi, saya syok.
Begitu bertemu, bukannya keluar kata-kata marah malahan saya jadi baik hati dan bersimpati melihatnya mengerjakan tugas.
Kita bercanda lagi. seperti tidak ada masalah.
Saya si tetap protes dengan caranya memperlakukan saya. Tapi mendengar alasannya saya kembali luluh. Kalau memang tidak ada yang perlu dicemaskan, mengapa saya harus cemas?
Membuat lelah pikiran saja.
well,,yang jelas, selama saya berpikiran buruk dan paranoid, 'dia' malah santai.
Menandakan bahwa wanita memang beda dengan pria kan??
well,,setidaknya cobalah untuk tidak sesantai itu menanggapi rasa frustasi wanita.

Pernah kejadian, saat dia pulang dari liburan kampung halamannya, dia bertanya 'mau oleh-oleh apa?' dan saya jawab 'kedatanganmu adalah oleh-oleh terindah' walaupun sebenarnya berharap dia tetap memberi oleh-oleh. Tapi apa yang terjadi?? dia kembali k Semarang benar-benar tanpa oleh-oleh untuk saya. hiks. sesak rasanya. tapi mau apa lagi, saya juga nggak bisa protes, lha wong saya yang salah. hah,,,

well,,bertahan sampai kapan y hubungan ini??
fiuhhh

cy